February 16, 2008

Being a Techer : a Great Choice and a Great Job


In this post, I wanna share you my reflection (not my experience) as a teacher. I have worked as a teacher especially for first grader since 2005 at Lazuardi GIS in Cinere, Depok. I often asked my students whether they wanna be a teacher or not. And, almost no one of them want to be a teacher. But I don’t know exactly why they don’t want to be. When I tried to elicit their reasons or some comments in their chit-chat, It’s so hard for them to give a specific one. After listening to my explanation about working as a teacher then one or two of them express their appreciation for this profession.

In my opinion, being a teacher or an educator is a great choice because most of people don’t want it and not all of people who want it are able to do it. Hmm….complicated! I don’t want to say that it’s not an interesting job or it’s a hard job. But, teacher as an important profession and education as a basic need haven’t got a great appreciation in this nation. I will not talk about that more because it’s so complicated for me. In here, I just want to recognize (to encourage) us as teacher to appreciate our job, we ourselves. First of all, we should thank to God because He has chosen us for this glorious task. By this, we have a great chance to take part in empowering the next generation, developing the new civilization and changing the world. Isn’t it a great job? You have decided to be a teacher and that’s your own choice. Never regret it and give your best job. Imagine, that you are investing a great thing for the future when it is not yours. But, you become an unforgetable man at the time and you are reminded of your merits. Congratulation and have a nice journey in creating a better life.

December 29, 2007

Talking about Love

Saya sangat setuju dan saya yakin banyak orang yang sependapat bahwa ‘cinta’ merupakan akar dari kehidupan. Kita terlahir sebagai manusia adalah karena cinta, hingga kita bisa survive dan eksis juga karena cinta, dan bahkan kita bisa mengaktualisasikan diri sehebat apapun juga karena cinta.

Lalu, apakah sebenarnya arti cinta itu? Banyak orang yang mencoba mendefinisikan cinta, meskipun sebenarnya tidak ada definisi yang pasti tentang cinta. Cinta begitu tidak terbatas luasnya dan tidak terjangkau tingginya. Kalaulah sekiranya cinta itu didefinisikan hanya sebatas yang indah-indah. Bagaimana halnya dengan pengorbanan orang-orang yang rela menelan kepahitan demi membela orang yang mereka cintai.

Kita, orang-orang yang pernah jatuh cinta, dapat membayangkan bagaimana cinta itu bisa memberikan pengaruh yang besar pada kehidupan seseorang. Cinta dapat mengubah perilaku fisik maupun mental seseorang. Orang yang jatuh cinta pasti lebih perduli dengan penampilannya karena dia tahu ada orang yang spesial yang akan selalu memperhatikannya. Orang yang jatuh cinta akan cenderung mengubah cara berpikir dan cara berbicaranya karena dia ingin setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata pilihan yang mengandung pujian, keindahan, ketulusan dan kebijaksanakan. Hati begitu berbunga-bunga penuh warna, berdebar-debar penuh makna. Setiap langkah begitu berarti dan setiap kata begitu terlatih. Sosok si dia (pacar) kemudian berubah menjadi bagaikan bunga, bintang, bulan, matahari, bidadari, arjuna, pangeran, atau pahlawan.

Kata cinta memang terlalu biasa di telinga kita, saking biasanya dia bisa datang dan pergi begitu saja. Sehingga, esensi yang dikandungnya menjadi tidak luar biasa. Bisa jadi ini akibat cara kita dalam memaknai cinta itu sendiri. Kata cinta banyak kita gunakan dalam berbagai ungkapan sehari-hari : cinta kepada anak, cinta pada suami/istri, cinta pada keluarga, cinta pada teman maupun cinta kepada si doi (pacar). Kata suka, sayang, kasih, kencan (dating), cumbu rayu, pacar dan asmara selalu identik dengan kata cinta meskipun salah satu dari itu belum bisa mewakili seluruh makna yang terkandung dalam cinta itu sendiri, hanya sebagian.

Cinta itu adalah sesuatu yang alami, pasti ada dalam diri setiap orang. Keinginan untuk mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia. Keinginan untuk mencintai dan dicintai itulah yang membangun keseimbangan, keseimbangan yang menegakkan langit di atas bumi. Kekuatan cinta itu tentu sangat luar biasa, dan dia pasti dibangun di atas pondasi oleh arsitek yang maha mencintai dan maha dicintai. Untuk itu hendaklah orang-orang yang mencintai dan dicintai menyandarkan kekuatan cintanya kepada arsitek cinta itu sendiri, dialah Allah SWT.

Kita adalah makhluk-makhluk kecil yang berdiri dia atas bumi dan bernaung di bawah langit. Kita hanya seumpama sebutir pasir di hamparan pantai atau sebutir debu yang berterbangan di permukaan bumi. Mana mungkin kita bisa mengatakan bahwa cinta kita sepenuh bumi, seluas lautan, atau setinggi angkasa raya. Untuk menjaga, memelihara dan melindungi diri kita dari sapuan ombak dan terpaan angina saja perlu perjuangan mati-matian.

Kita bandingkan dengan Allah SWT, meskipun sebenarnya mustahil untuk dibandingkan. Cinta-Nya benar sepenuh langit dan bumi, cinta-nya kepada manusia, tumbuhan, binatang dan segala yang bernyawa dan yang tidak bernyawa, cintanya kepada laki-laki dan perempuan, cinta-Nya kepada anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua. Cinta-Nya kepada orang beriman dan orang yang tidak beriman, cinta-Nya kepada orang-orang muslim dan orang-orang kafir.
Wallahu a’lam bi shawab.

December 28, 2007

The Real Happiness

Happiness is every thing. A wise man says “it is important to be success, but the most important thing is to be happy”. Happiness is real and other people can know whether you are happy or not. Most of people say that they have been already happy but actually not yet. Happiness is not only represented by your expression, body language, or words. Happiness is not only about money, family, career or social intercourse. We know that there are so many cases when people feel unhappy so they become frustrated. Even some of them end their life by suicide.


Happiness is a choice. You are the decision maker for it. But, you have to understand that happiness is a part of principle of life, your life principle. It is about thought, idealism and belief. So that, some one without happiness (principle) is like a ship that is blown by the wind without any point, full of dangers and uncertainties.

Recognizing of self identity is the first step to awareness of happiness. Recognizing of self identity reveal your capability in answering questions : Who are you? Where are you from? What for do you come? All of these are basic questions. Let’s pretend this time is the first time for us turning up to this world. Can you imagine while you are created alone without any one arround you? You live in a jungle and you don’t understand any thing. At the time as you are right now, you have soul, mind and body. What will you do exactly? When you try to answer those questions, you try to indentify your self. When you try to identify your self, you try to be happy. Do you agree with me? please submit yout comment!


Cinere – South Jakarta
Monday, November 19th 2007

Make The Impossible Possible


The word “impossible” is a dangerous word.
When uttered aloud,
the word impossible has a devastating effect on our subconcious mind.
Thinking stops. Progresshalts. Door slam shut.
Effort comes to a screeching halt. Projects are abandoned.
Hopes are dashed. Dreams are discarded.
The light of imagination goes dim.
The best and the brightest of creative brain cells
die in some dark corner of the mind.



Now, let someone utter the magic words,
“It may be possible! I don’t know how or when, but it might be possible”
Those string words rally forth hopes yet unborn.
Burried dreams are resurrected .
Enthusiasm begis to build. Spark to fly.
Dusty files are reopened. Lights go on. Once closed factories are retooled.
Ideas are developed. Markets begin to open.
The drought ends.

Never allow anyone to get by
With the judgement that something is impossible.
That is one word that blocks all human progress

October 29, 2007

For Students and Parents

Pusat Bimbingan Private & Konsultasi Belajar
T R A N S S A I N S
Menuju Masa Depan Gemilang
Target :
  • Senang dan sukses dalam belajar
  • Sukses test harian dan formatif
  • Sukses ujian semester
  • Sukses UAN
  • Sukses UMPTN
  • Meningkatkan nilai rapot
  • Sukses menembus SMP, SMA maupun PTN favorit

Keunggulan :

  • Team pengajar berpengalaman dan dari perguruan tinggi terkemuka
  • Jadwal belajar fleksibel
  • Mendappat laporan kemajuan belajar
  • Konsultasi belajar dan PR
  • Pemahaman teori 20% dan latihan soal 80%

Sistem Belajar :

  • Pengajar datang ke rumah
  • Jadwal dan waktu belajar disesuaikan dengan waktu luang siswa
  • Waktu pertemuan minimal 2 kali per minggu
  • Waktu belajar 2 jam tiap kali pertemuan

Biaya Private :

  • Biaya pendaftaran Rp.20.000,- per siswa
  • Biaya belajar per orang siswa per level per satu kali pertemuan
  • SD Rp. 50.000,-
  • SMP Rp. 55.000,-
  • SMA Rp. 60.000,-
  • Mhs. Rp. 70.000,-

Informasi Pendaftaran (Call/SMS) :

Insan (0813 1880 6012)

Program Private SD - SMP - SMA - Mahasiswa

Summary

Kelembagaan Pengajian dalam Pembangunan Masyarakat Perdesaan (Studi Kasus Kelembagaan Pengajian di Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor).
Binsan Siregar, S.P
____________________________________________________________________
Era reformasi yang berimplikasi pada pemberlakuan ekonomi daerah dan demokratisasi merupakan momentum yang tepat untuk mempertajam arah pembangunan melalui penguatan kelembagaan pembangunan masyarakat dan birokrasi. Pembangunan yang berorientasi kerakyatan, yang mengedepankan paradigma pembangunan manusia, merupakan arah baru yang diharapkan dapat memperbaiki paradigma lamayang lebih beroriientasi pada pertumbuhan ekonomi.
Perbedayaan masyarakat dalam kerangka pembangunan yang berorientasi pada manusia (people centered development) merupakan suatu strategi untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan peran aktif dalam pembangunan. Dalam hal ini, prioritas pembangunan seharusnya ditujukan pada masyarakat yang selama ini cenderung tertinggal dan termarginalkan dalam proses pembangunan. Masyarakat perdesaan sudah seharusnya menjadi ujung tombak pelaksanaan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Pembangunan masyarakat desa dengan pendekatan pemberdayaan didasarkan pada semua potensi dan kendala yang ada pada masyarakat local, sehingga diperlukan kapasitas kelembagaan pemerrintah dalam menjalin keterkaitan dengan kelembagaan local masyarakat. Pemberdayaan bukan hanya meliputi penguatan individu-individu anggota masyarakat tetapi juga kelembagaannya.
Lemahnya kelembagaan local masyarakat merupakan salah satu kondisi dasar yang mengakibatkan masalah pembangunan berupa kesenjangan dan ketidakmandirian. Kelembagaan local yang telah mendapat penilaian tertinggi dari masyarakat merupakan wahana aspirasi masyarakat dan cenderung untuk menjadi saluran perubahan social dan kebudayaan. Ketidakmampuan kelembagaan local dalam melaksanakan peranan dan fungsinya secara efektif merupakan konsekuensi dari proses pembangunan yang belum memberikan perhatian yang luas pada eksistensi kelembagaan ini. Kegiatan pengajian merupakan salah satu kelembagaan local yang menjadi tradisi dan mekanisme social budaya local dalam masyarakat perdesaan Indonesia. Fenomena tumbuh dan berkembangnya kelembagaan pengajian dalam masyarakat sampai saat ini adalah merupakan hal yang menarik dan penting untuk diperhatikan. Keberadaan kelembagaan ini tentu tidak bisa diabaikan dalam gerak pembangunan, bahkan sebaliknya harus dipandang sebagai sebuah potensi yang dapat dikembangkan. Untuk itu, penelitian ini mencoba mengkaji berbagai permasalahan yang berkaitan dengan kelembagaan ini, yaitu bagaimana eksistensi kelembagaan pengajian dalam masyarakat perdesaan, keterkaitannya dengan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan dan rancangan strategi pengembangan kelembagaan pengajian dalam pembangunan masyarakat.

Informasi lebih lanjut tentang hasil penelitian ini bisa menghubungi penulis.
Terima Kasih

October 24, 2007

My Hope will Never End

Bagaimanapun, manusia memang tidak memiliki kehendak. Berperan di atas panggung dunia bagaikan wayang di tangan sang dalang. Manusia hanyalah pemilik rencana, harapan dan pemikiran. Tapi, skenario, takdir dan kebenaran adalah milik sang pencipta, Allah SWT.


Tuhan. Inikah jawaban dari doa-doaku selama ini? Inikah buah perjuangan yang aku impikan? Inikah akhir perjalanan panjang yang kulalui? Inikah temuan dari perenungan hidup yang kulakukan? Inikah wujud dari idealisme yang kupertahankan? Tidak. Doaku hanya sekali dua kali. Perjuanganku sangat miskin pengorbanan. Langkah kakiku kadang tiada kusadari. Khayalanku melebihi perenunganku. Idealisme yang menjadi keyankinanku belum sepenuhnya bisa kuselami.

Uhh.... Inilah pengalaman hidup yang sering mengisi hari-hariku. Terkadang aku bingung dan menyelimuti diri dengan ambiguku. Pertanyaan dan jawaban menjadi milikku sendiri. Episode demi episode berakhir dengan pertanyaan dan jawaban silih berganti. Trauma masa lalu dan ambisi masa depan menempatkan aku sebagai terdakwa atas keadaanku kini. Jalan hidupku sepertinya berkotak-kotak, meski aku selalu berusaha memandangnya sebagai sebuah entitas yang utuh. Kecengengan dan cengengesan, kebenaran dan ketenaran, prestasi dan prestise terletak di kutub yang terpisah jauh. Menemukan jati diri tidak semudah yang kubayangkan, aku harus menelusurinya dari jejak langkah pertamaku sambil membaca lembar-lembar tertulis dan yang tidak tertulis. Sudah, sudah terlalu banyak referensi yang menggambarkan semua ini. Setiap kata dan kalimat, setiap tanda dan isyarat berlalu seolah tidak bisa menunjukkan arah.